Mungkinkah Indonesia bangkit pada tahun 2020?

Minggu, 21 Januari 2018

Konsep Kesehatan Manajemen Sekolah

Oleh: Cepi Triatna


Penelusuran konsep kesehatan manajemen sekolah yang dilakukan penulis mengarah pada teori sekolah efektif (effective school) dan organisasi yang unggul/sempurna (organizational excellence). Kata “Kesehatan” merupakan kata benda yang memiliki arti “keadaan (hal) sehat”, berasal dari kata dasar ”sehat” yang memiliki makna 1 baik seluruh badan serta bagian-bagiannya (bebas dr sakit); waras: sampai kini ia tetap -- krn rajin berolahraga; 2 (yg) mendatangkan kebaikan pd badan: makanan yg -- diperlukan bagi pertumbuhan anak-anak; 3 sembuh dr sakit; 4 ki baik dan normal (tt pikiran). (Kamus Bahasa Indonesia, 2008:1381). Empat makna sehat menurut kamus di atas memiliki makna yang beragam dan akan sesuai dengan konteks penggunaannya dalam kalimat. Istilah “Kesehatan” dalam “Kesehatan Manajemen Sekolah” memiliki makna kondisi manajemen sekolah yang bebas dari penyakit manajemen. Kesehatan manajemen sekolah adalah suatu kondisi dimana manajemen sekolah ada dalam kondisi bebas dari penyakit sehingga memiliki kesiapan untuk melakukan setiap fungsi manajemen. Sehat artinya bebas dari penyakit. Siap artinya semua fungsi sistem, baik sistem kerja maupun sistem orang yang bekerja, memiliki kesiapan untuk dapat melaksanakan fungsi-fungsinya. Kesehatan merupakan sebuah kondisi sistem manajemen yang bebas dari penyakit. Kesiapan merupakan sebuah “kondisi optimal” dimana fungsi organisasi dan manajemen serta orang yang menjalankan fungsinya dapat langsung melaksanakan tugas pokoknya.



Kesehatan manajemen sekolah berbeda dengan keberhasilan manajemen sekolah dan demikian juga dengan kesehatan organisasi sekolah. Keberhasilan  memiliki makna kondisi dimana tujuan atau sasaran manajemen atau organisasi dapat dicapai. Sedangkan kesehatan bermakna kondisi dimana manajemen siap melakukan seluruh fungsinya secara optimal untuk melakukan semua misi organisasi karena bebas dari penyakit. Kesehatan manajemen sekolah akan memudahkan organisasi dan pihak manajemen mencapai tujuan manajemen sekolah sesuai dengan nilai-nilai yang dianut. Sedangkan kesehatan organisasi sekolah (School organizational health) muncul dari perkembangan pencapaian kinerja organisasi melalui faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan organisasi sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan organisasi sekolah memiliki makna yang lebih luas, sebagaimana organisasi merupakan induk dari manajemen.



Pemaduan konsep sekolah efektif dan organisasi unggul melahirkan pemikiran mengenai bagaimana indikator kesehatan manajemen sekolah dikembangkan. Dalam suatu kontinum, organisasi unggul merupakan fase tertinggi dari gerakan manajemen mutu sedangkan sekolah efektif adalah karakteristik keunggulan yang dimiliki oleh sekolah-sekolah yang dikategorikan sekolah-sekolah terbaik di dunia. Dalam proses penyusunan indikator kesehatan manajemen sekolah, penulis melakukan penelitian dalam bentuk survei ke sekolah-sekolah di beberapa kabupaten dan secara acak di tingkat nasional. Pemaduan dua konsep dan hasil survei dari sekolah-sekolah inilah yang kemudian berkembang menjadi tulisan ini.


Penulis mengembangkan konsep organisasi unggul, yakni organisasi yang memiliki standar mutu dan pencapaian terhadap standarnya yang tinggi, ini sebagai bagian untuk menentukan kesehatan organisasi. Dalam kacamata manajemen mutu, kesempurnaan organisasi akan terwujud manakala ada pertemuan antara kebutuhan pelanggan dengan karakteristik layanan organisasi. Pertemuan kedua hal inilah yang dinamakan mutu. Organisasi sehat artinya organisasi yang mengarah pada mutu bukan organisasi yang hanya sekedar berjalan. Organisasi yang mengarah kepada mutu memiliki kesiapan untuk menjalankan fungsi-fungsinya, memecahkan masalah yang dihadapi, dan memenangkan persaingan. Ketiga hal inilah yang menjadi pijakan penulis (dari konsep organisasi unggul) untuk mengembangkan konsep kesehatan manajemen dan organisasi.
Berdasarkan kajian di atas, yakni sekolah efektif dan organisasi unggul, penulis kemudian membuat pemahaman bahwasanya kesehatan organisasi dan manajemen sekolah merupakan kesiapan semua fungsi organisasi untuk dapat menjalankan semua tugas pokoknya, memecahkan masalah yang dihadapi, dan memenangkan persaingan dari berbagai organisasi yang menjadi pesaingnya. Pemaduan ini dapat digambarkan sebagai berikut ini.
Gambar Pemaduan konsep sekolah efektif dan organisasi unggul untuk menghasilkan kesehatan manajemen sekolah

Gambar di atas menunjukkan bahwasanya konsep kesehatan manajemen sekolah merupakan suatu kondisi manajemen sekolah yang menunjukkan dapat memenuhi/memiliki karakter atau indikator sehat dalam setiap fungsi manajemen. Indikator sehat merupakan karakteristik sekolah yang menunjukkan kondisi sekolah efektif dan organisasi sekolah yang unggul. Karakteristik/indikator kesehatan manajemen dikembangkan dari indikator sekolah efektif dan organisasi unggul. Fungsi manajemen adalah kegiatan yang dilakukan dalam proses manajemen sekolah, yaitu perencanaan sekolah, pengorganisasian sumberdaya sekolah, penganggaran, kepemimpinan, supervisi pembelajaran (akademik), pelaksanaan program kerja sekolah, dan evaluasi program sekolah.


Simpulan konsep kesehatan manajemen sekolah. Berdasarkan kajian dan uraian di atas, konsep kesehatan manajemen sekolah memiliki beberapa makna sebagai berikut: 1) Kondisi yang menunjukkan fungsi-fungsi manajemen sekolah memiliki kesiapan untuk dapat melakukan tugas-tugasnya, 2) kondisi dimana masukan, proses, dan hasil manajemen sekolah menunjukkan kinerja sistem manajemen sebagaimana diharapkan, dan 3) umpan balik dari setiap proses manajemen dapat menjadi masukan terhadap sistem manajemen, baik secara parsial maupun secara keseluruhan.




Jumat, 15 Desember 2017


PEDAGOGICAL LEADERSHIP UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH: SEBUAH TINJAUAN AWAL

Oleh: Cepi Triatna

Silahkan dibukan linknya: https://www.scribd.com/doc/236430664/2nd-International-Seminar-2010-Practice-Pedagogic-in-Global-Education-Perspective.

Artikel ada pada halaman 350 - 357.

Artikel ini telah dipublikasikan dalam seminar yang diselenggarakan atas kerjasama antara UPI dengan The University of Queensland, University Malaysia, Universitas Terbuka, dan imt-gt.


Jumat, 19 Mei 2017

Indikator Kesehatan Perencanaan Sekolah

Oleh: Cepi Triatna
Dalam berbagai fenomena mengenai perencanaan sekolah, banyak kalangan mempertanyakan bagaimana kondisi kesehatan pernencanaan sekolah yang dikategorikan sehat. Pertanyaan ini merupakan bagian dari buku yang sedang saya kerjakan, yaitu Patologi manajemen sekolah. Mudah-mudahan akhir tahun 2017, buku ini sudah dapat dibaca oleh para sekalian pembaca.
Indikator kesehatan perencanaan sekolah meliputi kesehatan dalam dimensi masukan perencanaan, proses perencanaan, dan hasil perencanaan. Masing-masing dimensi memiliki sejumlah indikator yang menandakan kondisi-kondisi yang menujukkan kesehatan pada setiap dimensi.

 Tabel 1
Indikator perencanaan sekolah yang sehat

DIMENSI
INDIKATOR KESEHATAN
KETERANGAN
Masukan perencanaan
§  Tersedia data yang lengkap, up to date, dan valid untuk menyusun rencana program dan kerja sekolah.

§  Orang-orang yang membuat rencana memahami bagaimana cara membuat perencanaan sekolah, termasuk memahami berbagai aturan terkait dengan penyelenggaraan sekolah (8 SNP).

§  Waktu yang tersedia bagi tim untuk membuat perencanaan memadai (tidak diburu-buru).

§  Ada dukungan sumber daya yang dibutuhkan untuk bekerja membuat rencana, seperti: tempat untuk berdiskusi, ATK, laptop/komputer, dsb.

Proses perencanaan
§  Proses pembuatan rencana melibatkan pemangku kepentingan sekolah
§  Rencana yang dibuat dilandaskan pada data dan informasi yang lengkap, up to date, dan valid.
§  Tim perencana sekolah membuat rencana program dan kegiatan untuk mencapai visi (termasuk indikator visinya), misi, dan sasaran yang telah ditetapkan secara bersama
§  Proses penentuan atau pembuatan keputusan melalui proses dialog untuk mencari/menguji validitas keabsahan rencana.
§  Jika muncul perbedaan ide mengenai apa yang harus direncanakan, maka dilakukan pengujian visibilitas, tingkat kemungkinan keberhasilan, dan dampak dari masing-masing program dan kegiatan yang berbeda tersebut.
§  Penentuan keputusan betul-betul didasarkan pada kebutuhan sekolah bukan keinginan individu.
Misal para orang tua: dilibatkan untuk memberikan informasi mengenai apa yang mereka harapkan dari sekolah bagi anak-anak mereka, apa keterlibatan mereka dalam pengelolaan sekolah, dsb.
Hasil perencanaan
§  Rencana program dan kegiatan sekolah dibuat secara jelas (tidak abu-abu) dan terukur
§  Apa yang direncanakan memungkinkan untuk dicapai oleh sekolah
§  Rencana yang dibuat disertai dengan desain pemantauan dan evaluasi
§  Rencana program dan kegiatan disertai dengan rincian, seperti: rencana waktu, tempat, pihak yang terlibat, dan alokasi dana , dsb.
§  Rencana yang dibuat  jelas dilakukan oleh siapa dan bagaimana melakukannya.





Rabu, 03 Februari 2016

SELAMAT DATANG DI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2015/2016

Bulan Februari merupakan awal untuk mengembangkan semangat yang lebih besar untuk belajar mengenai banyak hal dalam berbagai kewajiban kita masing-masing. Bagi anda para mahasiswa yang mengontrak mata kuliah dengan saya, khususnya pada mata kuliah pengelolaan pendidikan, saya berharap dan berdoa semoga anda mendapatkan  kemudahan dalam menimba ilmu yang bermanfaat bagiri dan umat saat ini maupun di masa yang akan dating. Semoga Alloh memberikan kemudahan bagi kita semua untuk mengamalkan ilmu yang kita pelajari.

Salam,
Cepi Triatna

Selasa, 18 Agustus 2015

Mengawali Tahun Ajar 2015/2016

Ada sejumlah refernsi dalam bentuk buku, jurnal, dan laporan penelitian yang dapat digali untuk kepentingan perkuliahan di Universitas Pendidikan Indonesia, khususnya berkaitan dengan mata kuliah yang saya bina, yaitu: manajemen stratejik, pengelolaan pendidikan, kebijakan pendidikan, perilaku organisasi, penulisan karya tulis ilmiah. Silahkan dibuka website: http://www.gen.lib.rus.ec
Jika Anda mendapatkan kesulitan dalam menguasai berbagai materi perkuliahan, Silahkan datang ke ruang dosen untuk berdiskusi lebih lanjut. Salam

Jumat, 03 Agustus 2012

Penyusunan Bahan Ajar Pedagogik

TEKNIK PENYUSUNAN BAHAN AJAR PEDAGOGIK
 
Bahan kajian pada “Workshop Pengembangan Bahan Ajar Diklat”, 27 Februari s.d 3 Maret 2012              di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Banten
 
Oleh:
Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.

A. Tujuan Sesi

Setelah sesi ini selesai diharapkan peserta workshop:
  1. Mengalami penguatan kemampuan dalam teknik penyusunan bahan ajar pedagogik
  2. Lebih yakin terhadap pentingnya peran WI dalam keberhasilan diklat bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) melalui penyusunan bahan ajar yang tepat dengan kebutuhan peserta diklat.
 
B. Petunjuk Penggunaan Bahan Ajar

Kajian mengenai teknik penyusunan bahan ajar pedagogik ini merupakan bahan ajar yang akan digunakan secara bersamaan dengan proses workshop (bukan modul/bahan mandiri). Bahan ini diharapkan dapat memberikan informasi secara lebih detail dari apa yang disampaikan secara langsung. Selain itu, bahan ini menjadi rujukan dalam menyegarkan pengetahuan peserta mengenai “teknik penyusunan bahan ajar pedagogik”.

Berkaitan dengan materi yang spesifik, yaitu bahan ajar pedagogik, naskah ini mencoba memfokuskan kajiannya kepada bagaimana menyusun bahan ajar yang dapat memfasilitasi peningkatakan kompetensi pedagogik. Karena itu, menjadi pra-syarat penting untuk mendalami terlebih dahulu mengenai apa isi dari kompetensi pedagogik guru (SD, SMP, SMA/K).

Mengingat peserta workshop adalah para widyaiswara, yaitu individu yang telah memiliki kemampuan dalam penyusunan bahan ajar diklat maka bahan ajar ini diposisikan sebagai pelengkap dan pembanding dalam kajian teknik penyusunan bahan ajar.


C. Materi Kajian
  1. Mengkaji Kembali Makna Bahan Ajar dalam Suatu Diklat/Penguatan Kompetensi
Pertanyaan reflektif mengenai bahan ajar. Untuk memfasilitasi pendalaman mengenai makna bahan ajar, mari kita terlebih dahulu menjawab pertanyaan berikut!: 1) Mengapa suatu diklat/penguatan kompetensi harus ditunjang oleh keberadaan bahan ajar? 2) apa fungsi bahan ajar bagi keberhasilan penguasaan kompetensi oleh peserta diklat?

Hakikat diklat. Jawaban terhadap pertanyaan ini akan menghantarkan kita pada makna diklat/penguatan kompetensi yang sebenarnya. Hakikat diklat adalah meningkatkan kompetensi/ kemampuan peserta dalam melaksanakan peran dan fungsi-fungsinya serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam keseharian kerjanya. Kompetensi/kemampuan yang menjadi tujuan diklat mengarah pada tiga hal, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan teknis. Jika demikian, penguatan kompetensi merupakan suatu hal yang kompleks, karena melibatkan aspek kognisi, afeksi, dan psikomotor secara terpadu. Dengan kata lain tugas fasilitator/instruktur dalam sebuah diklat adalah “bagaimana mengubah perilaku seseorang melalui suatu diklat?”

Bahan ajar harus memadai. Kompleksitas (keterlibatan kognisi, afeksi, dan psikomotor secara terpadu) inilah yang mengharuskan suatu diklat ditunjang oleh bahan ajar yang memadai. Maksud memadai, yaitu bahan ajar yang memfasilitasi peserta diklat/penguatan kompetensi untuk mengalami proses kognisi, afeksi, dan psikomotor dalam bidang yang didiklatkan. Sehingga hasilnya, peserta diklat memiliki kemampuan/kompetensi yang diharapkan.

Penyusunan bahan ajar bukan “alakadarnya.” Dalam konteks tersebut, penyusunan bahan ajar tidaklah sesederhana sebagaimana dipikirkan kebanyakan orang, yaitu “sekedar pelengkap untuk suatu pelatihan.” Barangkali melalui tulisan ini, penulis mengajak untuk mengkaji ulang makna/hakikat dan posisi bahan ajar dalam keberhasilan suatu diklat/penguatan kompetensi. Dengan kata lain, penyusunan bahan ajar bukanlah sekedarnya. Bahan ajar seharusnya memfasilitasi pengalaman belajar bagi pembacanya. Melalui bahan ajar pembaca dihantarkan pada pemahaman, penyikapan, dan keterampilan yang mendukung peran, tugas, dan fungsinya serta pemecahan masalah-masalah keseharian dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Arti bahan ajar. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk membantu guru/instruktur/fasilitator/nara sumber dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan peserta didik/diklat untuk belajar. Dalam definisi di atas, bahan ajar diposisikan dalam dua hal, yaitu sebagai pembantu bagi instruktur dan sebagai media untuk proses belajar bagi peserta didik.

Ragam bahan ajar. Bahan ajar terdiri dari 1) bahan cetak (printed): handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket. 2) Bahan ajar dengar (audio): kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio. 3) Bahan ajar pandang dengar (audio visual): video compact disk, film. 4) Bahan ajar multimedia interaktif (interacitive teaching material): Computer Assisted Instruction (CAI), compact disk (CD), multimedia pembelajaran interaktif. 5) Bahan Ajar Berbasis web (web based learning materials).

Audio visual perlu untuk memberikan pengalaman kognisi dan afeksi yang mendalam. Untuk kepentingan penyusunan bahan ajar pedagogik bagi guru-guru, sebaiknya bahan ajar yang disusun dilengkapi dengan jenis audio visual berupa film atau VCD. Hal ini ditujukan untuk memberikan pengalaman kognisi dan afeksi yang lebih mendalam terhadap aplikasi pengetahuan dalam praktik pedagogik. Dalam hal ini, instruktur/guru/fasilitator/narasumber/widyaiswara perlu untuk mencari bahan-bahan ajar dari berbagai film, membuat sendiri dari praktik nyata di lapangan, atau mendowload dari sumber youtube. Dalam hal ini, penulis merekomendasikan untuk menjadi salah satu bahan dalam penguatan kompetensi pedagogim adalah film “freedom writers” yang dibintangi oleh Hilary Swank dan kawan-kawan. Atau film “laskar pelangi.”

RESENSI FILM FREEDOM WRITERS
Anak-anak Bermasalah pun Patut Dapat Pendidikan
Posted by: majalahopini on: October 20, 2008
anak-anak bermasalahpun patut mendapatkan pendidikan adalah kata yang tepat untuk menggambarkan film ini (ist).

FREEDOM Writers merupakan film yang diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang guru di wilayah New Port Beach, Amerika Serikat dalam membangkitkan kembali semangat anak-anak didiknya untuk belajar. Dikisahkan, Erin Gruwell, seorang wanita idealis berpendidikan tinggi, datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru Bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antar geng rasial. Misi Erin sangat mulia, ingin memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anak bermasalah yang bahkan guru yang lebih berpengalaman pun enggan mengajar mereka.
Tapi kenyataan tidak selalu seperti yang dipikirkan Erin. Di hari pertamanya mengajar, ia baru menyadari bahwa perang antargeng yang terjadi di kota tersebut juga terbawa sampai ke dalam kelas. Di dalam kelas mereka duduk berkelompok menurut ras masing-masing. Tak ada seorang pun yang mau duduk di kelompok ras yang berbeda. Kesalahpahaman kecil yang terjadi di dalam kelas bisa memicu perkelahian antar ras.

Erin mencoba menaklukkan murid-muridnya dengan meminta mereka menulis semacam buku harian. Di buku harian itu, mereka boleh menulis apa pun yang mereka inginkan, rasakan, dan alami. Cara ini ternyata berhasil. Buku-buku harian dari para murid-muridnya setiap hari kembali pada Erin dengan tulisan mereka tentang apa yang mereka alami dan mereka pikirkan setiap hari.

Dari buku-buku harian itu, Erin paham bahwa dia harus membuat para muridnya sadar bahwa perang antargeng yang mereka alami bukanlah segalanya di dunia. Melalui cara mengajarnya yang unik, dia berusaha membuat para muridnya sadar bahwa dengan pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Walaupun semua usahanya itu tidak didukung oleh rekan-rekan guru yang lain dan pihak sekolah, Erin terus maju. Bahkan, dia rela mengorbankan waktu luangnya untuk bekerja sambilan demi membeli buku-buku bacaan yang berguna bagi para muridnya.

Hasilnya, semangat belajar murid-muridnya kembali muncul. Akhirnya, banyak dari murid-murid di kelas Erin Gruwell yang menjadi orang pertama dari keluarga mereka yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Buku harian yang mereka tulis diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul ‘The Freedom Writers Diary’.

Film ini tidak menjual mimpi From Zero to Hero, tapi lebih menampilkan bagaimana satu orang yang peduli pada pendidikan anak-anak yang sudah dianggap sebagai sampah masyarakat mampu merubah mereka menjadi orang yang lebih berguna. Mengingatkan kita pada film berjudul ‘Dead Poet Society’ yang juga bertema sama dan pernah dibuat pada akhir tahun 80-an dengan Robin William sebagai bintang utama. Buku-buku yang digunakan Erin Gruwell untuk mendidik murid-muridnya di film ini semuanya adalah buku yang benar-benar ada. Termasuk buku ’Diary of Anne Frank’ yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan sudah dijual di pasaran.

Freedom Writers memiliki alur cerita yang mudah dipahami dan juga dialog yang gampang dimengerti. Permasalahan-permasalah remaja yang ditampilkan di film ini juga cukup dekat dengan permasalah remaja pada umumnya, tentang pencarian jati diri dan pelanggaran-pelanggaran peraturan untuk mengukuh-kan eksistensi diri. Semua itu dibungkus dalam pemasalahan perang antargeng.

Fakta menarik dari film ini salah satunya ada pada adegan saat murid-murid Erin bertemu dengan orang-orang korban Holocaust. Yang berperan menjadi korban Holocaust adalah benar-benar korban Holocaust sendiri. Sutradara Richard Lagravenese tak perlu susah payah meng-arahkan aktor dan aktris pemeran murid-murid Erin untuk terlihat tercengang saat mendengar cerita para korban Holocaust itu. Hal ini karena saat pengambilan adegan itu, para aktor dan aktrisnya benar-benar tercengang mendengar cerita para korban Holocaust tersebut.

Peraih Academy Award 2 kali, Hilary Swank meme-rankan Erin Gruwell de-ngan sangat pas. Ada pula Imelda Staunton, pameran Dolores Umbridge di Harry Potter and The Order of The Pheonix, yang menjadi kepala departemen sekolah yang menyebalkan dan selalu iri dengan keberhasilan Erin. Selain itu ada Patrick Demsey, pemeran dr McDreamy dalam Grey’s Anatomy, yang bermain sebagai suami Erin yang tidak mendukung usaha istrinya.

Selain tiga nama di atas tidak ada lagi nama bintang besar yang berperan dalam film ini. Pemeran murid-murid di kelas Erin Gruwell, sebagian besar merupakan wajah baru di dunia perfilman yang belum begitu dikenal baik masyarakat Amerika Serikat sendiri maupun masyarakat Indonesia. Namun, mere-ka berhasil membawakan peran masing-masing de-ngan sangat baik dan meyakinkan.

Freedom Writers bisa dikatakan merupakan film untuk anak muda. Di te-ngah-tengah maraknya film remaja yang ceritanya tidak jauh-jauh dari cerita cinta, komedi atau horor, Freedom Writers bisa menjadi pilihan bagi anak muda yang tidak sekedar ingin terhibur, tetapi juga mendapatkan pelajaran tertentu dari film tersebut.

Bagi Anda yang belum menonton, tidak akan sia-sia Anda meluangkan waktu sejenak untuk menontonnya. Anda akan dapat mengambil pelajaran-pelajaran posistif bagi Anda. Selamat menonton!
(Penulis : Riska, Editor : Ayu, Lala, Sita)
Film : Freedom Writers
Sutradara: Richard LaGravenese.
Produksi: Paramount Pictures. Tahun: 2007. Penulis Naskah: Richard LaGravenese. Dibintangi: Hilary Swank, Scott Glenn, Imelda Staunton, Patrick Dempsey, dan masih banyak lagi.
Sumber: http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/resensi-film-freedom-writers-anak-anak-bermasalah-pun-patut-dapat-pendidikan/. [24 Februari 2012].


2. Rujukan dalam Penyusunan Bahan Ajar Secara Nasional

Bahan ajar sebagai bahan kenaikan pangkat. Penyusunan bahan ajar untuk sebuah diklat tidak saja menjadi bahan belajar bagi peserta didik/diklat, tetapi juga menjadi bagian dalam pengembangan profesi bagi instruktur / guru / fasilitator / narasumber/ widyaiswara. Bahan ajar yang disusun oleh instruktur/guru/fasilitator/ narasumber/widyaiswara dapt dijadikan sebagai bahan untuk kenaikan pangkat. Untuk kepentingan tersebut, perlu dirujuk ketentuan nasional mengenai penyusunan bahan ajar yang diatur secara nasional sebagai bahan bandingan dalam penyusunan bahan ajar.

Pedoman LAN dan perguruan tinggi. Sepengetahuan penulis, salah satu rujukan penyusunan bahan ajar bagi para widyaiswara adalah pedoman yang dikeluarkan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang tertuang dalam Peraturan Kepala LAN Nomor 5 tahun 2009 tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan dan Pelatihan (terlampir). Selain itu, Universitas Islam Indonesia juga mengeluarkan Panduan pembuatan Bahan Ajar (Diktat, Modul, Handout). (terlampir).

Pedoman sebagai salah satu rujukan. Pada hakikatnya, bahan ajar dibuat untuk kepentingan proses/pengalaman belajar peserta didik/diklat, bukan untuk kenaikan pangkat bagi instruktur / guru / fasilitator / narasumber/ widyaiswara. Namun demikian, hal ini bukanlah suatu hal yang salam jika instruktur / guru / fasilitator / narasumber/ widyaiswara menjadikan karya yang dibuatnya sebagai bahan untuk kenaikan pangkatnya. Hanya saja perlu diarifi posisi pedoman ini sebagai salah satu rujukan untuk menyusun bahan ajar, karena pada intinya, jika peserta diklat mengalami proses belajar yang mendalam dengan format yang berbeda dari panduan, secara pedagogik hal itu bukanlah suatu masalah.

Sistematika pedoman LAN. Dalam pedoman yang dikeluarkan oleh LAN, sebuah modul diklat harus memenuhi sistematika sebagai berikut:
A. Halaman Sampul
B. Kata Pengantar
C. Daftar Isi
D. Daftar Informasi Visual
E. Daftar Lampiran
F. Petunjuk Penggunaan Modul
G. Pendahuluan
     1. Latar Belakang
     2. Deskripsi Singkat
     3. Tujuan Pembelajaran
     4. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok
H. Materi Pokok 1
I. Materi Pokok 2
J. Materi Pokok 3 dst
K. Penutup
L. Kunci Jawaban
M. Daftar Pustaka
N. Glosarium

Lebih rinci mengenai pedoman dan panduan ini dapat dipelajari dalam lampiran naskah kajian ini.


3. Identifikasi Kebutuhan Diklat/Penguatan Kemampuan Pedagogik Bagi Guru

Penyusun bahan ajar perlu mengidentifikasi pengalaman peserta diklat. Penyusunan bahan ajar yang dilakukan oleh instruktur/guru/fasilitator/nara sumber/widyaiswara perlu untuk mempertimbangkan mengenai apa yang harus dialami oleh peserta didik/diklat dalam proses diklat, khususnya dalam diklat/penguatan kompetensi pedagogik. Menjadi pertanyaan yang serius jika kita mengidentifikasi mengenai apa saja yang harus dialami oleh guru supaya menjadi kompeten atau lebih kompeten dalam kompetensi pedagogik? Model diklat yang berbentuk penataran/penyampaian materi semata hanya akan membebani guru secara psikolgis tanpa berbekas terhadap penguatan kompetensi. Penguatan kompetensi pedagogik harus dilakukan dengan cara berfikir kritis dan reflektif, serta proses latihan/praktik langsung/simulasi.
Refleksi dan berfikir kritis terhadap anak merupakan kunci penguatan kompetensi pedagogik. Kompetensi pedagogik meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan guru dalam aspek pedagogik secara utuh. Untuk menguasai hal ini, seseorang minimal mengalami proses berpikir secara mendalam dan reflektif mengenai 1) apa itu kompetensi pedagogik dan dimensi-dimensinya?, 2) bagaimana isi rincian kompetensi pedagogik?, 3) apa saja keterampilan yang harus dikuasai dalam kompetensi pedagogik?, 4) bagaimana menguasai keterampilan pedagogik?, dan 5) bagaimana kompetensi ini menjadi kepemilikan (menghidupi dan dihidupi) guru?

Makna berpikir kritis dan reflektif. Berfikir kritis (critical thinking) adalah “kegiatan berpikir yang dilakukan den¬gan mengoperasikan potensi intelektual untuk menganalisis, membuat pertimbangan dan mengambil keputusan secara tepat dan melaksan-akannya secara benar.” (Sri Untari, 2008:155). Sedangkan berfikir reflektif “merupakan proses seseorang untuk memahami makna di balik suatu fakta, fenomena, informasi, atau benda.” (Kesuma, Triatna, dan Permana, 2011:119).

Teori belajar menekankan pada pentingnya seseorang mengalami proses belajar. Dalam teori belajar bermakna (meaningful teaching theory), Ausubel mengemukakan bahwa kebermaknaan penya-jian dan pentingnya pengaturan kemajuan be¬lajar mengharuskan bahan dirancang baik agar menarik minat peserta didik/diklat. Untuk itu bahan harus: (1) bermakna secara poten¬sial; (2) bertujuan untuk melaksanakan belajar secara bermakna, sehingga peserta didik/diklat memiliki kesiapan dan minat untuk belajar. Dalam pandangan teori belajar humanistik, belajar menekankan pada isi dan proses yang berorientasi pada pe¬serta didik sebagai subyek belajar. Karena itu bahan belajar yang disusun oleh instruktur/guru/fasilitator/ nara sumber/widyaiswara harus memfasilitasi proses berfikir kritis dan reflektif.

Latihan/praktik/simulasi menumbuhkan atau menguatkan keterampilan seseorang. Selain berfikir kritis dan reflektif, pengalaman belajar guru untuk menguasai kompetensi pedagogic juga harus ditunjang dengan pengalaman latihan/praktik/simulasi kompetensi yang akan dikuasai. Semisal untuk menguasai kemampuan “Mengidentifikasi kesulitan peserta didik dalam berbagai bidang Pengembangan” guru sebaiknya melakukan praktik/simulasi identifikasi kesulitan belajar anak, baik secara langsung maupun melalui perantara video. Latihan ini sangat penting untuk menumbuhkan kemampuan guru dalam menganalisa, mendeskripsikan/menguraikan, menemukan masalah, dan menilai suatu kondisi yang dialami oleh peserta didik termasuk atau tidak termasuk ke dalam kesulitan atau bukan.

Proses belajar peserta diklat harus meliputi proses kognisi, afeksi, dan psikomotor. Dengan kata lain, penguasaan kompetensi guru dalam bidang pedagogik dilakukan dengan memfasilitasi guru untuk: 1) mengalami berfikir (proses kognitif) mengenai isi kompetensi pedagogik, 2) merasakan (fisik maupun mental) proses melakukan/melatihkan kompetensi pedagogik secara langsung maupun melalui perantara video/film, 3) memikirkan mengenai mengapa perlu kompetensi pedagogik untuk proses pembelajaran (berfikir reflektif).

Berdasarkan pengalaman yang harus dilalui oleh guru dalam peguatan kompetensi pedagogik inilah kemudian instruktur/guru/ fasilitator/nara sumber/widyaiswara menyusun bahan ajar.
4. Memposisikan Bahan Ajar Dalam Diklat/Penguatan Kemampuan Pedagogik Guru
Bahan ajar sebagai kumpulan materi untuk memfasilitasi guru meningkatkan kemampuan pedagogiknya. Posisi bahan ajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses diklat/penguatan pedagogik guru. Bahan ajar merupakan sekumpulan materi yang harus dikaji oleh guru untuk menjadi lebih kompeten dalam berbagai kemampuan pedagogik. Karena posisi inilah maka bahan ajar memiliki peran penting untuk keberhasilan suatu diklat/program penguatan guru.

Bahan ajar harus mampu memfasilitasi guru berfikir, merasakan, dan berlatih secara terpadu. Dengan bahan ajar yang disusun, hendaknya peserta diklat mengalami proses yang beragam, yaitu berpikir kritis mengenai pedagogik, merasakan bagaimana suatu perilaku pedagogis, dan melatihkan bagaimana praktik pedagogis.
Berpikir kritis akan terjadi dalam pikiran peserta diklat jika bahan ajar memiliki sifat dialogis. Dalam hal ini bahan ajar sebagai refresentasi pikiran penulisnya dengan pembacanya. Merasakan proses pedagogis artinya peserta diklat diajak untuk menyaksikan langsung bagaimana suatu proses pedagogis dilangsungkan dalam situasi pembelajaran. Dalam hal ini, bahan ajar dibarengi dengan bahan yang bersifat audio visual. Audio visual akan memberikan pengalaman yang kaya untuk memfasilitasi peserta diklat merasakan proses pedagogis secara reflektif, sehingga peserta diklat menjadi tertarik untuk berperilaku pedagogis sebagaimana yang dia lihat. Berlatih praktik pedagogis dilakukan dengan melatihan keterampilan-keterampilan yang secara langsung harus dikuasai melalui proses praktik.

Beberapa kriteria untuk mengetahui kualitas bahan ajar sebagai berikut:
1) menimbulkan minat baca;
2) ditulis dan dirancang untuk mahasiswa;
3) menjelaskan tujuan instruksional;
4) disusun berdasarkan pola belajar yang fleksibel;
5) struktur berdasarkan kebutuhan mahasiswa;
6) memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berlatih;
7) mengakomodasi kesulitan mahasiswa;
8) memberikan rangkuman;
9) gaya penulisan komutatif dan semi formal ;
10) kepadatan berdasarkan kebutuhan mahasiswa ;
11) dikemas untuk proses instruksional;
12) mempunyai mekanisme untuk mengumpulkan umpan balik dari mahasiswa;
13) menjelaskan cara mempelajari bahan ajar
(Sumber: Pedoman Umum Penulisan Bahan Ajar- Program Pasca Sarjana Universitas Brawujaya, 2010:20)


5. Teknik Penyusunan Bahan Ajar Pedagogik

Variasi isi bahan ajar lebih memfasilitasi proses penguatan kemampuan pedagogik guru. Cara yang paling mudah untuk melakukan proses fasilitasi keterlibatan pengetahuan, perasaraan, dan keterampilan secara terpadu hanya dapat dilakukan dengan memvariasikan pengalaman belajar peserta diklat. Variasi pengalaman peserta diklat dalam proses diklat mengarahkan potensi peserta diklat lebih teroptimalkan.
Tahapan penyusunan bahan ajar. Teknik penyusunan bahan ajar dilakukan melalui tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh instruktur/guru/ fasilitator/nara sumber/widyaiswara dalam menyusun bahan ajar. Tahapan yang dimaksud adalah (1) memahami kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta diklat secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya; (2) mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap kompetensi yang harus dikuasai peserta diklat; (3) melakuan pemetaan materi; (4) menetapkan bentuk penyajian; (5) menyusun struktur (kerangka) penyajian; (6) memahami berbagai rujukan sebagai sumber penyusunan bahan ajar; (7) menyusun bahan ajar (mendraf); (8) menyunting bahan ajar; (9) mengujicobakan bahan ajar; dan (10) merevisi dan menyempurnakan bahan ajar.


D. Latihan

Untuk memantapkan pengetahuan dan keterampilan dalam teknik penyusunan bahan ajar pedagogik bagi guru, ada beberapa pertanyaan reflektif untuk menguatkan sebagai berikut:
  1. Bahan ajar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan suatu diklat. Mengapa demikian?
  2. Penyusunan bahan ajar bukan sekedar pelengkap diklat, tetapi merupakan bagian penting untuk penguatan kompetensi guru. Untuk itu, penyusunan bahan ajar disesuaikan dengan proses belajar yang harus dialami oleh peserta diklat. Apa yang harus dilakukan oleh penyusun bahan ajar untuk sampai dapat memfasilitasi penguatan kompetensi pedagogik guru?
  3. Untuk memfasilitasi kebulatan kompetensi peserta diklat, kira-kira bagaimana pengembangan bahan ajar yang dinilai paling tepat?

E. Rangkuman
  1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk membantu guru/instruktur/fasilitator/ nara sumber dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan peserta didik/diklat untuk belajar.
  2. Penyusun bahan ajar didasarkan pada hasil identifikasi proses belajar yang harus dialami oleh peserta diklat.
  3. Proses belajar peserta diklat harus meliputi proses kognisi, afeksi, dan psikomotor.
  4. Tahapan penyusunan bahan ajar terdiri dari: (1) memahami kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta diklat secara keseluruhan maupun bagian-bagiannya; (2) mengidentifikasi jenis materi pembelajaran berdasarkan pemahaman terhadap kompetensi yang harus dikuasai peserta diklat; (3) melakuan pemetaan materi; (4) menetapkan bentuk penyajian; (5) menyusun struktur (kerangka) penyajian; (6) memahami berbagai rujukan sebagai sumber penyusunan bahan ajar; (7) menyusun bahan ajar (mendraf); (8) menyunting bahan ajar; (9) mengujicobakan bahan ajar; dan (10) merevisi dan menyempurnakan bahan ajar.

F. Daftar Pustaka
  • Dharma Kesuma, Cepi Triatna, & Johar Permana. (2011). Pendidikan Karakter; Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Rosdakarya.
  • Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor: 5 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penulisan Modul Pendidikan Dan Pelatihan. Jakarta: LAN RI.
  •  Program Pasca Sarjana (PSP). (2010). Pedoman Umum Penulisan Bahan Ajar. Malang: Universitas Brawijaya.
  •  Riska, Editor : Ayu, Lala, Sita. (2008). Resensi Film Freedom Writers;Anak-anak Bermasalah pun Patut Dapat Pendidikan. Tersedia online: http://majalahopini.wordpress.com/2008/10/20/resensi-film-freedom-writers-anak-anak-bermasalah-pun-patut-dapat-pendidikan/. [24 Februari 2012].
  •  Sri Untara dkk. (2008). Pengembangan Bahan Ajar dan Lembar Kegiatan Siswa Matapelajaran PKn dengan Pendekatan Deep Dialoque/Critical Thinking untuk Meningkatkan Kemampuan Berdialog dan Berpikir Kritis Siswa SMA di Jawa Timur. JURNAL PENELITIAN KEPENDIDIKAN, TAHUN 18, NOMOR 1, OKTOBER 2008.


Wilujeng Shaum Ramadhan

Kahatur sadaya kerabat, sahabat, rekan kerja, dan ummat Islam, Selamat menunaikan ibadah Shauh Ramadhan. Mudah-mudahan diberikan kekuatan untuk menjalaninya dengan penuh kekhusuan, semangat, dan keikhlasan.

Sabtu, 25 Juni 2011

AKTIVITAS BELAJAR BAGI MHS PGSD (DUALMODE) MATA KULIAH PENGELOLAAN PENDIDIKAN 25 JUNI 2011

KERANGKA PEMAHAMAN MANAJEMEN SEKOLAH BAGI CALON-CALON GURU


Oleh: Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.



Manajemen sekolah dapat dikategorikan menjadi dua tingkatan, yaitu manajemen di tingkat sekolah dan manajemen di tingkat kelas. Manajemen sekolah dalah segala upaya untuk merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan, mengevaluasi dan mengendalikan sumber daya sekolah untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Manajemen kelas adalah segala upaya yang dilakukan oleh guru untuk mengatur dan mendayagunakan segala sumber daya kelas untuk mencapai tujuan kelas secara efektif dan efisien.

Ukuran keberhasilan manajemen dijabarkan dalam dua kata, yaitu “efektif” dan “efisien.” Efektif memiliki arti sesuatu yang mengarah pada hasil yang berdaya guna atau mencapai hasil yang diharapkan/ditargetkan. Efisien mengandung arti manajemen mampu menghasilkan sesuatu yang tepat sasaran dilihat dari perbandingan sumber daya yang dicurahkan dengan hasil yang didapatkan.

Penguasaan manajemen sekolah dan manajemen kelas mengharuskan kita memahami terlebih dahulu apa tujuan yang harus dicapai, baik pada level sekolah maupun pada level kelas. Tujuan sekolah merupakan tujuan dari kelas-kelas. Tujuan sekolah adalah arah, haluan, maksud, atau tuntutan yang harus dipenuhi oleh pengelola sekolah. Tujuan kelas adalah tujuan kurikuler atau dikenal dengan tujuan pembelajaran.

Untuk memahami lebih jauh mengenai kerangka manajemen ini, silahkan simak gambar 1. di bawah ini. (bukalah situs ini!: 1) http://www.business.pitt.edu/katz/mba/academics/i/transformation.jpg
2)  http://www.selu.edu/acad_research/colleges/edu_hd/images/ConceptualFramework1.jpg

Berdasarkan kerangka di atas dapat dipahami bahwa mahasiswa Prodi PGSD sebagai calon guru SD harus mengetahui terlebih dahulu apa sebenarnya tujuan yang harus dicapai melalui proses pendidikan di SD. Untuk itu silahkah masing-masing dari Anda mengkaji secara kelompok mengenai standak kompetensi lulusan (SKL) untuk kelompok mata pelajaran dan mata pelajaran di SD.


Pengalaman belajar yang harus dilalui Mahasiswa:
1. Buatlah kelompok antara 3 atau 4 orang !
2. Rumuskan bagaimana profil lulusan SD ? apa saja yang harus dikuasai oleh lulusan SD?
3. Apa saja tahap-tahap yang harus dilakukan oleh kepala sekolah dan guru untuk menghasilkan lulusan SD sebagaimana dimaksud pada nomor 2?
4. Jika sudah selesai, silahkan dikirimkan pesannya ke facebook atau email ke: cepitriatna@gmail.com. Ingat, ini dikerjakan secara berkelompok.

--- T E R I M A   K A S I H ---

Kamis, 17 Februari 2011

Pengalaman Belajar bagi Mahasiswa Jur. Pendidikan Bahasa Daerah Kamis 17-02-2011 Pada Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan

Memahami Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Daerah

Untuk memahami tentang kompetensi lulusan pada mata pelajaran bahasa daerah baik di SD, SMP, dan SMA/SMK terlebih dahulu kita harus memahami apa yang disebut dengan "kompetensi lulusan." Langkah awal untuk mendalami hal ini kita telusuri makna Kompetensi Lulusan menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya penjelasan pasal 35 (1): "Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati." Berdasarkan penjelasan tersebut, kita dapat menggaris bawahi bahwa kompetensi lulusan bukan sekedar kemampuan lulusan dalam kognisi (pengetahuan), tetapi juga mencakup sikap dan keterampilan.

Dalam konteks mata pelajaran Bahasa Sunda, mahasiswa harus memberikan tafsiran lebih lanjut dari resume yang sudah dibuat//SK-KD Mata Pelajaran Bahasa Daerah, yaitu dengan cara mengidentifikasi:

1. Apa sajakah kompetensi lulusan pada mata pelajaran Bahasa Daerah (sunda)?
2. Apakah kompetensi lulusan dari mata pelajaran Bahasa Sunda sudah meliputi ketiga ranah kompetensi, yaitu (1) sikap, (2) pengetahuan, dan (3) keterampilan.
3. Apakah mahasiswa sudah/belum memahami ketiga ranah kompetensi tersebut dalam mata pelajaran Bahasa Sunda? Jika belum, aspek mana yang belum dipahami?
4. KBM yang bagaimana yang harus dilakukan supaya setiap lulusan dapat menguasai kompetensi Bahasa Sunda tersebut?

Keempat pertanyaan tersebut merupakan arahan untuk membantu mahasiswa Jurusan Bahasa Daerah untuk menganalisis dan mendalami kerangka awal Mata Kuliah manajemen sekolah bagi calon-calon guru. Jika hal ini sudah dianggap dikuasai oleh mahasiswa, selanjutnya kita akan melanjutkan pada aspek-aspek manajemen sekolah, dimulai dari manajemen kurikulum dan seterusnya.

Pertemuan selanjutnya, Kamis 24 Februari 2011 akan mengkaji tentang bagaimana kerangka sistem dalam manajemen sekolah untuk dapat menghasikan lulusan yang kompeten dalam mata pelajaran Bahasa Daerah.

Jika mahasiswa telah menyelesaikan tiga arahan di atas, silahkan kirimkan melalui facebook a.n. cepi triatna. Untuk memperdalam tentang kompetensi, silahkan mahasiswa mencari rujukan dari internet atau buku di perpustakaan.

Demikian desain pengalaman belajar mahasiswa pada perkuliahan 17 Februari 2011. Mohon maaf atas segala kekurangan dan terima kasih atas segala perhatian dan kerjasamanya.

Jumat, 04 Februari 2011

Deskripsi Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan

Mata kuliah pengelolaan pendidikan merupakan mata kuliah yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa kependidikan (calon pendidik dan tenaga kependidikan). Mata kuliah ini memberikan dasar pemikiran dan langkah-langkah (prosedur) operasional dalam mengelola pendidikan.


Tujuan Perkuliahan:
Memfasilitasi mahasiswa untuk memiliki pemahaman yang mendalam mengenai konsep dasar, fungsi dan peranan, proses dan prosedur, serta bidang-bidang garapan pengelolaan pendidikan di tingkat mikro (persekolahan), messo (kabupaten/kota), dan makro (nasional).



Dosen Pengampu:
Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.

1. Filsafat Administrasi Pendidikan
2. Pengelolaan Satuan Unit Pendidikan (sekolah)
3. Pengelolaan Kelas
4. Pengelolaan Kurikulum
5. Pengelolaan Peserta Didik
6. Pengelolaan Tenaga Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
7. Pengelolaan Sarana Dan Prasarana
8. Pengelolaan Keuangan Pendidikan
9. Pengelolaan Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
10. Kepemimpinan Pendidikan
11. Supervisi Pendidikan
12. Sistem Informasi Pendidikan Dan Ketatausahaan
13. Pengawasan Dan Penilaian Satuan Pendidikan
14. Pemasaran Pendidikan
15. Kewirausahaan Dalam Pendidikan

Bagi Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Kelas A yang tetap mengikuti perkuliahan (tidak FKKB), Mohon mempersiapkan diri untuk belajar bersama mengenai pengelolaan pendidikan.  Semoga Alloh Yang Maha Mengetahui memberikan kemudahan untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Terima kasih.



Bumi Siliwangi, 04 Pebruari 2011
Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Pendidikan


Ttd.

Cepi Triatna, S.Pd., M.Pd.

Kamis, 27 Januari 2011

Nilai Akhir MK Pengelolaan Pendidikan Prodi. Pend. Ilkom

Berdasarkan data-data yang ada, khususnya tugas-tugas dan presentasi sangat menggembirakan. Namun demikian, hasil UAS banyak sekali yang kurang, sehingga Nilai Akhir (NA) menjadi rendah. 

Bagi yang BL, yang bersangkutan belum mengikuti UAS. Secepatnya menghubungi dosen supaya dapat diuruskan. 
Selamat bagi anda yang sudah mendapatkan nilai sesuai dengan harapan. Dan Jangan putus asa bagi mereka yang belum mendapatkan nilai sesuai dengan harapan. Semoga Alloh swt memberikan hal yang lebih baik daripada sekedar nilai ini.  Trims.

Rabu, 26 Januari 2011

REKAP NILAI SEMENTARA MK. PENGELOLAAN PENDIDIKAN JUR. PEND. ILKOM FPMIPA UPI


Kolom-kolom yang dihitamkan itu sudah ada nilainya, sedangkan yang belum dihitamkan belum ada tugasnya. Mohon segera memenuhi tugas tugas tersebut paling lambat Kamis, 27 Januari 2011.

Keterangan Tugas yang belum:

Tugas 1: Apa tujuan sekolah dan apa bedanya dengan kursus?
Tugas 2 : Resume SK-KS Mata pelajaran TIK di SMP atau SMA
Presentasi: File powerpoint yang harus diemailkan. File disertai daftar pertanyaan.

Sebuah Pelajaran Bagi Para Orang Tua

Pelajaran dari seorang bunda....
oleh: Novi Candra (novicandra19@yahoo.com)


Beberapa hari yg lalu di saat penat, lelah dan bosan datang bersamaan ...seperti biasanya anak-anakku aliya, jaeza dan soura melakukan aktivitas yang ..heboh..kebetulan sudah hampir 2 minggu ini mereka libur...aduhhh rumah berganti-ganti fungsi jadi dapur., arena bermain, kapal pecah...hehehe tahu sendiri khan..mereka berlari ke sana-ke mari, ..membawa perkakas alat-alat bermain ke sana ke mari, bertengkar, berebut barang...menangis..sehingga waktu yg rasanya sangat nyaman utk beristirahat membuatku bersabar utk meladeni mereka...kadang tiba-tiba muncul rasa ingin marah dan frustasi ..sampai kemudian tiba-tiba aku teringat sebuah pengalaman....

waktu itu tepatnya kapan aku lupa, di sebuah parent session yg waktu itu ku fasilitatori..seperti biasanya para orangtua (yg biasanya kebanyakan ibu-ibu) kuberi kesempatan utk mengenali putra-putri mereka. Selain utk melakukan assessment juga utk me'release' perasaan yg dimiliki org tua. Mulailah para ibu menceritakan anak-anaknya.

" anak saya itu usillll banget bu, nggak bisa diem..lompat sana lompat sini..saya sampai capek mmperingatkannya,"kata seorang ibu.
Ibu lain menimpali," iya.,ya anak-anak sekarang memang susah diatur...saya sampai stress sendiri ngerasain mereka. saya suka nggak ngerti apa maunya. rumah sudah diatur rapi ehhhh diobrak abrik lagi..

Suasana semakin rame...seorang ibu juga bercerita," saya suka khawatir saja kalau mereka terlalu nggak terkontrol sikap dan perilakunya selain merugikan mereka sendiri juga bisa membuat kondisi rumah kacau...ayahnya sering ngamuk-ngamuk kalau pulang kondisi rumah kacau. Seorang ayah menimpali," iya bu..kadang kalau tidak sabar saya juga memukul mereka karena susah diberi tahu...

semua sudah mengemukakan 'uneg-unegnya' tinggal seorang ibu yg sedari tadi sabar terdiam dan hanya mendengarkan. Kemudian saya bertanya kepada bunda tersebut,: bunda ..saya lihat belum mengemukakan sesuatu, ada yg ingin dikemukakan bunda...???

Bunda tersebut hening sesaat...suasana yg tadi ramai menjadi sedikit hening karena menunggu kata-kata dari sang bunda..namun bukan kata-kata yg keluar justru kami melihat air mata meleleh di wajah sang bunda.

Pelan-pelan bunda tsb mulai berbicara terbata" Kalau saya boleh meminta, saya akan meminta anak saya sehat seperti anak-anak bunda-bunda lain sehingga dia bisa berlari bebas, bisa bermain bebas dan menikmati masa kecilnya dengan riang gembira...namun demi mendengar bunda bunda lain tadi bercerita saat ini saya bersyukur dengan kondisi anak saya...walaupun dia cacat dan hanya di kursi roda dengan keterbatasan pendengaran dan bicara..ternyata dia mampu berbuat sesuatu yg anak-anak lain susah utk melakukannya yaitu duduk tenang dan gampang diatur....dulu saya berpikir kalau boleh meminta...saya akan meminta anak saya sehat walaupun akan merepotkan karena banyak tingkah dan polah...saya...(ibu itu tdk dapat meneruskan lagi kata-katanya) dan akhirnya.dia .berkata..terima kasih...terima kasih..

hening........
dan tanpa terasa ...air mata kita meleleh tidak kuasa merasa gemuruh di nurani..
betapa malunya kita semua ...yg telah dianugerahi anak-anak yg sehat namun tidak pandai mensyukurinya...
Alhamdulillah dapat belajar dari bunda tersebut...

Hari ini akhirnya....aliya, jaeza dan soura..bermainlah nak...
nikmati masa anak-anakmu yg tidak akan kau lewati lagi..
Bunda juga akan menikmati masa-masa merawat dan menemani kalian di usia anak-anak kalian
Untuk sejenak biarlah rumah terlihat berantakan
Untuk sesaat biarlah terdengar tangisan dan seruan kalian..
biarlah kunikmati ....
Syukur yang teramat sangat utk anugerah terindah dariMu ya Allah

Utk seluruh bunda dan orangtua di dunia

April, 2010
Melbourne, Australia
--------------------

Rabu, 29 September 2010

PENGALAMAN BELAJAR BAGI MAHASISWA PADA MATA KULIAH MANAJEMEN STRATEJIK

PADA PERTEMUAN 29 SEPTEMBER 2010

Indikator keberhasilan pembelajaran adalah: Setelah membandingkan berbagai model manajemen stratejik, mahasiswa dapat memilih salah satu model manajemen stratejik yang dianggap paling tepat untuk organisasi pendidikan.

Materi perkuliahan: Model-model manajemen stratejik

Pengalaman belajar mahasiswa:
1. Buat kelompok sebanyak 2 atau 3 orang perkelompok.
2. Cari model-model manajemen stratejik (minimal tiga model), kemudian bandingkan satu sama lain. Proses membandingkan menguraikan substansi model dan kekurangan dan kelebihan model.
3. Laporakan model dan hasil analisisnya dalam bentuk resume disertai dengan daftar referensinya. Kemudian masukan ke email: cepitriatna@yahoo.com. Paling lambat pada hari Senin, 4 Oktober 2010.

Jika ada kesulitan, silahkan dikonsultasikan melalui email atau bertemu langsung.

Rabu, 15 September 2010



SELAMAT HARI RAYA I'DUL FITRI 1431 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN. SEMOGA ALLOH MENERIMA AMAL IBADAH KITA DI BULAN RAMADHAN DAN 11 BULAN KE DEPAN.
TAQOBBALALLOHU MINNA WAMINKUM.

Cepi Triatna sekeluarga

Kamis, 17 Juni 2010

NILAI MK PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Tibalah saatnya bagi mereka yang telah bekerja keras mengikuti kegiatan perkuliahan untuk bersyukur atas Karunia dan Kemudahan yang telah Alloh berikan selama mengikuti program ini. Berikut adalah hasil rekapitulasi nilai berdasarkan hasil interaksi dan dokumen yang masuk selama satu semester. Bagi mereka yang belum mendapatkan nilai, sebaiknya melihat kekurangannya apa kemudian menghubungi dosen ybs.





Jika Anda termasuk yang harus melengkapi atau mengikuti UAS susulan, maka paling lambat dilakukan sebelum 22 Juni 2010. Jika sampai tanggal tersebut belum melengkapi atau belum UAS susulan, maka akan mendapatkan nilai sebagaimana adanya.

Terima kasih atas semua pengertian.

Bandung, 15 Juni 2010
Dosen Mata Kuliah

Ttd.

Cepi Triatna

Rabu, 28 April 2010

Sistematika laporan

SISTEMATIKA LAPORAN HASIL STUDI LAPANGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
A. PENDAHULUAN
(Menjelaskan tentang mengapa perlu ada kajian lapangan mengenai kebijakan pendidikan pada tiga pilar kebijakan)

B. TUJUAN STUDI LAPANGAN
(uraikan mengenai tujuan mahasiswa melakukan studi ke lapangan mengenai kebijakan pendidikan).

C. KAJIAN TEORI TENTANG KEBIJAKAN PENDIDIKAN
(uraikan teori yang terkait dnegan kebijakan yang dikaji)

D. DESKRIPSI HASIL STUDI LAPANGAN
1. Kebijakan
2. Program
3. Kegiatan
4. Hasil Kegiatan

E. EVALUASI DAMPAK KEBIJAKAN PENDIDIKAN PADA PILAR (PILIH SALAH SATU)
Uraikan mengenai dampak kebijakan dilihat dari indikator keberhasilan pendidikan. Indikator keberhasilan pembangunan pendidikan dapat dilihat pada buku khusus.

F. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN
1. Kesimpulan
2. Rekomendasi

G. DAFTAR PUSTAKA
Uraikan tentang daftar pustaka yang digunakan dalam penyusunan laporan